Produksi Pertanian Didorong Dijual Melalui Online

Sektor pertanian dituntut untuk mampu beradaptasi dengan revolusi industri 4.0. Salah satunya penjualan hasil pertanian didorong melalui e-commerce. Kementerian Pertanian telah memulai program tersebut melalui pembinaan gabungan kelompok tani.
Seperti dikatakan Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, Riwantoro dalam seminar nasional dan Praloknas FKPTPI BKS Wilayah Timur di Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Rabu (27/3/2019).

“Ada 10 kota besar yang sudah diinisiasi. Tersebar mulai dari wilayah Jabotabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan, derah lain diharapkan bisa segera menyusul tahun ini,” jelas Riwantoro.

Menurut Riwantoro, pemasaran produk pertanian melalui e-commerce bertujuan mendekatkan produksi dengan ekspor. Dalam seminar bertema Sumber daya Pertanian Berkelanjutan Dalam Mendukung Ketahanan dan Keamanan Pangan Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0 tersebut dirinya mengatakan adaptasi petani dalam revolusi industri 4.0 tersebut dalam rangka menuju tahun 2045.

“Dimana Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” katanya.

Pemasaran hasil pertanian online tersebut merupakan kelanjutan dari program mekanisasi disektor pertanian. Meski belum merata, tetapi saat ini petani sudah mulai menggunakan mesin untuk mendukung produktivitas produksi pertanian.

“Pemasaran online secara otomatis memotong mata rantai distribusi. Dari yang sebelumnya 8-9 titik menjadi hanya tiga titik. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan produk pertanian dengan harga lebih murah,” jelasnya lagi.

Sementara itu, dalam seminar tersebut Riwantoro memaparkan tentang Kebijakan Pemerintah dalam Mewujudkan pencapaian ketahanan dan keamanan pangan pada revolusi industri 4.0.

Selain Riwantoro, juga menghadirkan narasumber lain Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Dr. Ir. Harwanto, M.Si, Dekan FP UNS Prof Bambang Pujiasmanto serta VP of Corporate Service TaniHub, Asyri Purnamasari.

Ketua panitia seminar, Ahmad Pramono menambahkan, Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tahun 2045 bisa terwujud. Karena potensi yang dimiliki Indonesia sangat mendukung.

“Yakni Indonesia memiliki ekosistem tropis yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun. Selain itu, adanya variasi genetik tumbuhan yang dimiliki Indonesia,” jelas Ahmad.

Hal tersebut ditambah lagi dengan adanya improved varieties untuk komoditas pangan dan ternak. Potensi mewujudkan lumbung pangan juga semakin besar dengan adanya aktivitas ekstensifikasi dan intensifikasi kegiatan pertanian dalam arti luas.

Tetapi dibutuhkan usaha yang efektif dalam mengelola potensi-potensi yang ada untuk menggapai cita-cita tersebut. Saat ini, pengelolaan pertanian Indonesia di berbagai wilayah masih cenderung bersifat tradisional yang masih menyisakan beberapa faktor yang perlu dibenahi. ***

Editor : B Sadono Priyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X